Sabtu, 26 Maret 2016

Kedamaian.

Aku merindukan sebuah suasana yang terjadi sekitar 2 sampai 3 tahun yang lalu.
Ketika bukan laptop yang dibawa dan tak sengaja didekap ketika tidur, melainkan Al-Qur’an;
bukan HP yang di dalam genggam di manapun dan kapanpun, tapi Al-Qur’an.
Tak ada kedua benda ini pun, hidup tetap berjalan. Asal masih ada Al-Qur’an.
Yang digalaukan adalah setoran hafalan esok hari, bukan IP(K) yang konon menentukan nasib diri ini.
Saat yang menyibukkan adalah perkara akhirat, dengan tetap mengurus dunia; bukan fokus kepada dunia lalu akhirat dikesampingkan.
Damai. Tenang. Merasa aman. Bahagia.
Aku rindu kedamaian itu, yang “nyes” di hati, meski kepala dibombardir kegalauan masa depan duniawi.
Mungkin satu: Allah yang ada di hati.
Seharusnya memang cukup Allah tempat bertawakkal (re: bersandar), dengan-Nya kau akan tenang karena semua urusanmu akan mudah diatur-Nya.
Lalu, bisakah suasana itu terjadi lagi?
Upayakan saja dari diri sendiri, membangun faktor-faktor pembangkit tenang itu lagi, dan tak usah menjadikan excuse perbedaan tempat dan orang sekitar di masa kini. 

Objek Rindu Libur Panjang Akhir Pekan

Sedang rindu. Ya, gejala ini datang ketika ada tanggal merah yang dekat dengan akhir pekan. Libur panjang akhir pekan nama lainnya.

Pertanyaannya, siapa yang dirindukan?
Banyak.

Pertama, Ummi.

Wanita cantik yang sayangnya cantik dan putihnya tidak menurun ke aku ini mempunyai kesabaran dan ketegaran yang luar biasa. Kalau pun mengeluh, aku yakin itu hanya candaan di balik kekuatan yang mungkin di-backing oleh malaikat yang Allah suruh untuk menguatkan. Banyak ide kreatif yang halus tetapi "ngena" disampaikan padaku yang nakalnya kumat-kumatan. Nggak habis pikir, betapa tinggi sekali tingkat tangguhnya memiliki anak yang konsisten menggores sederet luka ini. Semoga Allah membebaskannya dari hisab atas kekhilafanku :"

Kedua, Abi


Sosok luar biasa ini menyimpan ke-wonderful-an-nya dengan sangat sempurna. Tak ada yang tahu apa yang dilakukan hingga Ummi menceritakannya padaku. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya hanya karena warnanya yang lebih gelap dan warna ini yang menurun kepadaku, tetapi aku yakin mereka yang ragu itu telah salah besar menilai Abiku. Kesabarannya benar-benar tidak berbatas. Mengerti tanpa berbicara. Merupakan orang yang paling tegas masalah agama, pendidikan, dan kehalalan dalam sesuatu. Orang yang setauku bisa benar-benar tegas menolak haram bahkan syubhat atau meragukan itu jarang, dan Abi masuk dari yang jarang itu.

Ketiga, bocil Thursina


Kusebut bocil karena bagaimana pun tinggi dan besarnya badannya, dia tetap adekku, lebih muda dariku. Makhluk satu yang sangat berbeda baik fisik maupun kepribadian denganku ini diam-diam berprestasi. Tidak pernah ambis sepertiku yang harus belajar sampai menangis dulu untuk dapat kursi di bangku kuliah, dia dengan mudah lolos seleksi olimpiade. Padahal saat aku masih di bangku sekolah, lolos seleksi kelas olim saja tidak. Selain itu, hasil fotografi dan sketsanya juga bagus untuk hitungan orang yang iseng membuatnya tanpa kursus atau memang berniat belajar. Meskipun untuk hal-hal tertentu kami sering berantem, tetap tak mengurangi kagumku ke adek yang merasa terhina kalau dipanggil "Dek" ini.

Keempat, bocil Abin


Yang ini benar-benar bocil. Bocah kecil. Padahal gendut. Nggak pernah ambil pusing setiap ada yang menyinggung warnanya, kontras denganku. Anak paling polos yang dengan kepolosannya ia terlindungi dari kontaminasi dunia masa kini. Yang paling nurut, paling pertama dan tepat waktu dalam hal sholat, mandi, dan berangkat les serta makan tentunya. Sangat berbeda dengan kedua kakaknya, terutama kakaknya yang perempuan. Sejak kecil sudah terlihat bakatnya dimana, walau katanya cita-citanya ingin menjadi pilot. Yah, semoga yang terbaik yang datang kepadamu, Dek.

Lalu, rindu yang sedang hadir diapakan?
Didoakan semoga cepat diberi kesempatan bertemu dengan objek yang dirindukan. Salah satunya dengan merencanakan pertemuan itu dan mengusahakannya. Sebab mereka terlalu berharga untuk tidak diperjuangkan~

Minggu, 20 Maret 2016

Upgrading. Up-Grade-Ing

Upgrading. Dari "upgrade", yang berarti perbaikan, peningkatan; dan disampaikan dalam bentuk kata benda. Up, naik. Grade, tingkatan. -ing, tanda bahwa kata tersebut dijadikan kata benda oleh aturan gerund. It means, sebelumnya sudah di tingkat yang baik, hanya saja sedikit ditambahkan sesuatu agar yang sudah baik itu naik tingkat lebih baik lagi.

Mengapa tiba-tiba aku membahas upgrading?

Sebab beberapa minggu lalu aku melakukan that kind of thing. Yap, aku melakukan upgrading dengan teman-teman Kastrat BEM IM FKM UI 2016. Padahal, upgrading kali ini merupakan yang pertama di tahun ini. Tema dan isi yang dibahas juga hal baru nan berbeda dari tahun-tahun atau upgrading-upgrading sebelumnya.

Terus kenapa?

Ya nggak kenapa-kenapa sih ._.
Lagi nggak pengen membahas isi dari upgrading itu~

Cuman pengen bilang aja, setiap dari kita itu spesial. Kita punya modal berupa otak, atau bahasa halusnya akal, sesuatu yang membedakan kita dari makhluk bernyawa yang lain. Jika ada ejekan, sindiran yang mengatakan "Di mana sih otak lu?" "Otaknya udah abis ya?"sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah. Sebab memang seharusnya karunia itu digunakan, meski dalam penggunaan otak membuat kepala yang menampung keberadaannya harus merasa berat dan pusing. Tapi itulah tanda otak kita bekerja.

Balik lagi ke upgrading.

Jadi, di dalam upgrading kala itu, kami mengundang Koorbid Sospol kami tercintah. Dia sangat super duper wonderful kece bhadhay luwar biazah, masya Allah. Beliau memberi materi tentang kenaikan biaya kuliah di UI. Rumor itu sedang hangat-panasnya di UI. Mulai dari sejarah, alasan, penyikapan, semuanya dia berikan. Tetapi, tidak akan sama apa yang diserap orang dalam suatu forum dengan orang lain yang berada di forum yang sama. Mereka yang sebelumnya telah terpapar, seminimalnya telah mendengar, lebih bagus lagi jika membaca, akan memahami jauh lebih baik dibanding yang bahkan mendengar saja tidak. Dan sepertinya aku masuk dalam kelompok yang tidak. Aku sedikit membaca tentang isu tersebut. Sedikit berdiskusi. Sedikit tahu.

Nah, yang ingin aku bahas adalah proses upgrading. Di dalam upgrading ada "grade", tingkatan. Untuk aku yang sedikit tahu, berarti dengan upgrading ini, aku naik tingkat ke sedikit lebih tahu. Butuh beberapa kali untuk mencapai tahap kedua tertinggi, yakni memahami. Jika tahap ini sudah dicapai, sudah dapat dipastikan tingkat tertinggi tercapai, yakni menjelaskan kepada orang lain dengan bahasa sederhana. Persis seperti yang dikatakan oleh Einstein tentang understanding something.

Sebagai manusia, sebisa mungkin kita menempatkan diri sendiri ke grade di atas yang seharusnya. Ketika kita tetap berada di grade yang sesuai, sama saja dengan berada di zona nyaman, seperti kata orang. Bagaimana caranya agar kita berada di grade atas? Coba baca ulang judul posting-an ini. Ya itu caranya. Aku percaya, semakin keren orang, semakin banyak proses upgrading yang dia lakukan. Semakin sering otaknya digunakan. Entah dengan membaca, berdiskusi, menulis; jika itu dalam konteks pemahaman pengetahuan dan isu; atau dengan menerima cobaan, ujian, pengalaman; lalu memikirkan hikmah sebagai pembelajaran ke depannya; bila kita membahas kehidupan.

Jadi, gunakan otakmu, isi ulang! Upgrade yourself! Agar teko otak tersebut mengeluarkan air yang bermanfaat bagi kehidupan, bukan debu atau sarang laba-laba yang bahkan harus digetok biar bisa keluar.
Sekian~

Senin, 14 Desember 2015

Syukur dan Sabar, di Balik Gagal Mengikuti Workshop

Baru tadi malam aku menerima undangan, baru tadi pagi aku mendaftar, baru menjelang siang aku mendapat tiket, dan baru tadi siang pula aku batal berangkat. Hidup memang berubah dengan cepat. Secepat keputusan yang diambil orang lain tadi yang membuatku kini hanya merasakan rasa senang menerima tiket online akomodasi gratis untuk mengikuti workshop di seberang pulau. Sejujurnya bukan karena lokasi pulau yang memang di pulau yang indah dan banyak wisata, namun lebih ke memuaskan rasa penasaran akan ilmu yang dapat kugali di sana. Memang, ilu bisa diperoleh dengan bertanya lebih lanjut ke orang yang pada akhirnya menggantikan posisiku untuk berangkat. Tetapi akan beda jumlah maupun kualitas yang didapat jika dibandingkan dengan mendengarkannya sendiri. 
Baik, lupakan saja keinginanku. Intinya di tulisan ini aku ingin mengatakan bahwa urusan seorang muslim itu sangat indah. Hidupnya hanya dipenuhi oleh dua hal: sabar ketika musibah datang dan syukur kala anugerah yang datang. Sejatinya memang hidup tak pernah terlepas dari cobaan atau ujian dan karunia. Bekal inilah yang kemudian kupegang hingga akhirnya aku benar-benar tidak memiliki hard feeling yang dalam atas kebatalan keberangkatanku. Jika kata temanku padahal ini adalah one step closer menuju apa yang selama ini ingin kulakukan, kemudian gagal begitu saja, maka yakinlah aku memang berpikir demikian. Tetapi kedua pegangan tadi aku genggam, sambal terus percaya bahwa kesempatan lain akan datang. Aku memupuk syukur karena aku bisa focus ke UAS meski tak dapat dipungkiri aka nada sedikit ego untuk hadir di workshop, sembari aku juga menumbuhkan kesabaran atas rejeki yang memang belum menjadi milikku, seperti kata ummiku. Biasanya aku memiliki sedikit firasat buruk jika akan terjadi sesuatu, begitu pun sebaliknya. Namun, sedari kemarin I have no feeling anymore, baik itu buruk maupun baik. Mungkin Allah menjaga aku agar tidak terlalu senang, sehingga tidak terlalu terpuruk ketika rejeki ini hanya numpang lewat di emailku. Ya, begitulah. Syukur dan sabar menurutku bukan dua hal yang muncul di dua hal yang terpisah, melainkan dua hal yang selalu berkombinasi dengan porsi dominan yang menyesuaikan masing-masing keadaan.

Begitulah ceritaku yang gagal pergi workshop dengan alasan yang tidak perlu untuk dijelaskan. Kemudian pertanyaannya, sudahkah kita menerapkan sabar dan syukur di setiap kejadian? Atau hanya ketika situasi tertentu? Dan aku masih belum termasuk golongan orang yang sabar dan pandai beryukur. Astaghfirullah..

Selasa, 08 Desember 2015

Tentang Mimpi (Dokter)

Baru kemarin sore aku keluar dari Auditorium RIK UI setelah kuliah matkul Etika dan Hukum Kesehatan. Topik hari ini adalah Malpraktik Medis dan Pencegahannya. Dosen yang mengajar bernama dr. Soerja Djaja Atmadja dari Dept. Forensik FK UI. Beliau merupakan dokter DNA Forensik pertama di Indonesia. Namun yang ingin kuceritakan bukan tentang beliau atau kisah-kisah di balik malpraktik di Indonesia, melainkan tentang bagaimana biduk-biduk perasaan yang terbangun selama perkuliahan berlangsung. Di auditorium sebesar itu hampir penuh dengan seluruh mahasiswa FKM UI 2014 dan FK UI 2015. Ya, kami mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK) sering dipertemukan dalam beberapa mata kuliah bersama. Tak dapat kututupi bahwa banyak mantan calon mahasiswa kedokteran yang berada dalam satu ruangan dengan mahasiswa kedokteran, termasuk saya. Kami, yang di antaranya ada aku dan kedua teman di sampingku sebisa mungkin mem-puk-puk diri sendiri ketika sang dosen (dokter) berkata,
"Kalian sebagai dokter..."
"Kita para dokter..."
“Sebagai dokter, kalian harus siap menghadapi hal-hal seperti itu.”
Buncah semangat, gelora untuk menjadi dokter terbakar lagi.
Cita-cita yang dulu dikejar seakan hadir kembali. Teringat bayangan orangtua, keluarga besar, teman sekolah, teman pondok, teman les, tetangga yang sering berdoa dan berkata,
"Aku percaya kamu bisa jadi dokter."
Teringat pula tulisan-tulisan di diary dan tempelan-tempelan di tembok kasur berisi rumus-rumus mapel dan istilah-istilah medis serta tulisan,
"Aku dokter."
"Faculty of Medicine, University of ..." (bermacam versi university)
Masih teringat pula air mata yang selalu muncul karena lelah, karena tak mampu menjawab soal tes sendiri dibanding teman-teman lain, karena takut membuat kecewa orangtua, serta datang karena ingin menguatkan diri ketika dipertemukan kegagalan.
Sebesar itulah kekuatan mimpi, segila itu pula mimpi memaksa orang untuk mengejarnya.
Namun, sebisa mungkin kami sadar bahwa pengejaran mimpi telah diputuskan, dialihkan menuju bentuk mimpi yang lain, bertransformasi. Kami saling melihat satu sama lain, tersenyum, dan berkata,
“Allah tahu yang terbaik.”
“…boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)
Memang hanya Allah yang menguasai seluruhnya, termasuk takdirku dan kedua temanku yang bahkan gagal di 2 tahun yang berurutan. Se-bagaimana-pun aku merasakan campur aduk setiap berada di kelas yang sama dengan mahasiswa FK, memiliki status sama dengan mereka bukanlah sesuatu yang baik untukku, menurut Allah.
Aku bersyukur, hasil yang kuperoleh tak sepenuhnya mengecewakan. Bahkan aku sangat bersyukur ketika di kampus kuning pada akhirnya aku berlabuh, meski bukan di kedokteran. Padahal tak pernah sedetikpun aku terbesit keinginan untuk kuliah di sini, menulis pun tidak. Tapi Allah memberinya dengan mudah tanpa kuminta, di saat mengejar kampus lain perlu berdoa dan berlari terengah-engah. Aku bersyukur ternyata FKM lebih cocok denganku yang senang bersosial dan berpikir sistem, tepat seperti salah satu alasanku ingin menjadi dokter, yaitu untuk memperbaiki sistem kesehatan Indonesia. Aku juga bersyukur banyak matkul bersama RIK yang membuatku bisa merasakan euforia belajar sebagai mahasiswa kedokteran, tanpa harus berstatus demikian.
Kini aku percaya, ada sesuatu yang disimpan Allah di balik alasan aku tidak diizinkan menjadi dokter. Aku percaya, di balik rahasia pasti ada rahasia. Seperti saat aku harus merelakan diri pergi dari sekolah aksel untuk belajar di pesantren boarding school, yang ternyata membuatku mendapatkan makna hidup. Aku yakin Allah memberikan mimpi itu agar aku mau berdoa dan berjuang keras. Mungkin jika aku tidak mempunyai mimpi aku tidak merasa perlu berjuang. Lagipula sebenarnya, berjuang mendapatkan UI pun tidak bisa se-bercanda itu. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.
-- Kepada teman-temanku yang berada di jurusan pendidikan dokter umum, tolong lanjutkan mimpi saya, dua teman saya, dan teman-teman mantan calon (mahasiswa) (ke)dokter(an) yang lain. Belajar dan mengabdi lah dengan tulus, manfaatkan kesempatan yang tidak dapat kami rasakan smile emotikon

Jumat, 06 November 2015

Mahasiswa = Susah

"Jadi mahasiswa ya harus susah"
"Oh yawes gapapa. Wong mahasiswa, yo wajar kalo susah"
...
itulah beberapa versi kalimat yang sering dilontarkan ummi setiap kali gue *ceritanya udah jadi warga depok nih ehem* sebagai anaknya yang merantau bercerita (re: mengeluh) tentang lika-liku kehidupan di kampus-kost-dan-sekitarnya. alasannya sederhana: belajar hidup senang hanya cukup sehari, namun belajar hidup susah? butuh bertahun bro.
sedih juga sebenernya melihat teman-teman sekitar pada hedon dan upload2 tralala-trilili menyenangkan *you know lah borju jekardah*, sedangkan gue mau naik ojek aja mikir squint emotikon namun belakangan gue sadar, kuliah itu 1 fase sebelum bener-bener kecemplung in REAL life, yang bakal lebih men-seret-kan isi kantong, dan itu TANPA ada transferan dari orangtua. dan konon kehidupan pasca kampus entah kuliah lagi, kerja, bahkan nikah pun, itu kejam. disuruh susah dulu lah intinya. the big question is, kalo lu ga latian hidup (re: stay strong) untuk memperjuangkan kehidupan yang emang menuntut adanya ke-susah-an (struggle) dari sekarang pas jadi mahasiswa, lu mau latian kapan? padahal lu butuh kesiapan (mental) kalau suatu saat harus menghadapi kondisi hidup susah. kudunya lu bersyukur masih bisa makan tanpa mikir besok harus kerja apa biar tetep bisa makan. coba liat orang yang mau berobat aja ga bisa karena ga punya KTP untuk daftar, wong punya rumah aja kagak (jadi ga bisa nulis domisili di KTP). kesiapan itu ga instan. mie instan aja kudu nyeduh dulu ga bisa langsung dimakan, apalagi mental?
itulah hasil dari perenungan gue di hari-hari panceklik (kebutuhan banyak, duit ga ada) ini. lagipula, ketika lo dituntut melakukan/ membeli/ menghasilkan suatu hal dengan modal seadanya dan lo berhasil, di situlah seninya grin emotikon
--dan sepertinya gua harus membaca tulisan ini sering2 biar ga merasa sebagai orang ter-ngenes sedunia lagi (re: bersyukur)--

Selasa, 03 November 2015

Seperti musim, ujian itu datang bergilir di setiap tempat. Ada yang kedapatan hujan, satunya mendapatkan matahari cerah, di sisi lain seseorang kedatangan topan. Mungkin ini saatnya kamu kegiliran badai, hingga kamu harus menerjangnya lebih dari biasa. Tapi percayalah, badai tak pernah datang tanpa alasan. Bisa jadi ia pertanda, bahwa matahari selanjutnya kan mendatangkan pelangi dan cuaca lebih indah.

Rabu, 28 Oktober 2015

Pengendalian Tembakau Mematikan Petani Tembakau, Benarkah?


Indonesia adalah surga produk hasil tembakau alias rokok bagi industri rokok dan penikmatnya. Hal ini dikarenakan regulasi atau pengendalian tembakau belum cukup kuat diterapkan. Pengendalian tembakau akan membuat petani tembakau menjadi bangkrut, yang kemudian akan menjatuhkan perekonomian Indonesia. Petani tembakau selalu menjadi alasan mengapa pengendalian tembakau tidak boleh ditegakkan. Sebenarnya mana petani yang dimaksud? Petani tembakau digaji lebih rendah daripada upah minimum regional kabupaten/ kota tempat mereka menanam tembakau. Hasil penelitian pada tahun 2008 mengatakan bahwa di Kendal, Jawa Tengah, petani tembakau hanya diberi upah Rp. 15.889,00 per hari atau Rp. 413.374,00 per bulan. Upah tersebut kurang dari separuh upah minimum setempat sebesar Rp. 883.699,00. Kondisi ini terjadi juga di wilayah penghasil tembakau lainnya yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lombok Timur dengan rincian angka yang sedikit berbeda. Pengendalian tembakau ditakutkan akan semakin memperburuk kehidupan petani tembakau. Jika benar petani tembakau harus dilindungi, seharusnya mereka berhak hidup sejahtera dengan upahnya. Sayangnya, upah menyentuh angka minimum saja tidak.
Jumlah petani di tiga provinsi tersebut belum mampu memproduksi tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok. Menurut Statistik Perkebunan Indonesia, produksi tembakau Indonesia pada tahun 2007 hanya mencapai 164.851 ton. Angka ini jelas tak memenuhi kebutuhan industri sebesar 220.000 ton, sehingga industri harus mengimpor tembakau yang angkanya terus-menerus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), impor tembakau mencapai $10,09 juta pada Januari-April 2011, atau meningkat 267% dari periode sebelumnya pada Januari-April 2010. Pengendalian tembakau juga dikhawatirkan akan membunuh produksi lokal dengan melegalkan impor dan memberhentikan produksi dalam negeri. Bila benar petani tembakau dilindungi, seharusnya upah mereka ditingkatkan dan atau jumlah mereka ditambah agar produksi menguat, bukan malah mengimpor yang malah akan mematikan produksi lokal.
Memperjuangkan petani tembakau seakan hanya bualan, nyatanya sulit untuk membuat mereka bertahan. Jumlah mereka yang hanya berada di tiga provinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat diagung-agungkan seakan mereka tersebar di ke-34 provinsi di Indonesia. Di ketiga provinsi yang dimaksud pun lahan tembakau tidak mencakup seluruh kabupaten/ kota di dalamnya. Bagaimana bisa jumlah yang sesedikit itu berdampak signifikan terhadap skala nasional Indonesia? Pengendalian tembakau tidak akan mematikan produksi tembakau lokal semerta-merta, ia hanya membatasi peredarannya. Pengendalian tembakau justru membantu petani tembakau dengan mengatur berapa harga yang mereka dapat untuk produksi mereka dan membatasi impor. Seharusnya pemerintah lebih mengaca, hak siapa yang sedang diperjuangkan?

Sumber: Chamim, Mardiyah, Wahyu Dhyatmika, and Farid Gaban. A Giant Pack Of Lies - Bongkar Raksasa Kebohongan Industri Rokok. Jakarta: KOJI Communications bekerja sama dengan TEMPO Institute, 2011. Print.

Jumat, 02 Oktober 2015

Urgensi Soliditas dan Kekuatan Komunal


Manusia adalah makhluk sosial yang butuh hidup berkomunitas. Kegiatan yang dilakukan pun tidak jauh dari bekerjasama atau seminimalnya adalah berhubungan dengan orang lain. Banyak tujuan yang harus dicapai bersama tanpa mengesampingkan tujuan pribadi. Tujuan bersama yang harus dicapai tentunya membutuhkan kekuatan komunal atau kekuatan bersama. Satu orang akan berperan dan membutuhkan peran orang lain. Ibarat mesin mobil, di dalam mesin ada gir-gir yang bekerja berdampingan dan saling menggerakkan. Satu saja yang bergerak tidak sesuai arah atau peran, maka yang lain dapat terhenti atau bertabrakan. Tujuan bersama yang dicapai mesin mobil tersebut untuk membuat mobil bergerak berpindah tempat tak akan tercapai. Di luar system gir tersebut terdapat pelumas yang membantu melancarkan perpindahan gir. Selaras dan sejalan apapun system gir, ketika pelumasnya habis, maka pergerakannya melambat dan malah merusak gir itu sendiri. Bahkan system gir yang bias dianalogikan dengan komunitas atau sekelompok manusia pun mmebutuhkan system atau komponen alias peran pihak lain yang mendukung kegiatannya. Dalam hal kehidupan manusia, system atau komponen tersebut bias berupa kelompok atau komunitas dan orang lain. Usaha yang dilakukan system gir bersama system dan komponen lainnya perlu kekuatan yang sama, semangat yang sama untuk mencapai tujuan, meskipun dengan cara atau peran yang berbeda. Saat kekuatan komunalnya mengendur, pihak di dalam komunitas tersebut harus saling menguatkan agar tidak terjadi ketimpangan antarkomponen dalam system. Sama seperti mobil yang hendak berbelok ke kanan. Saat rem tidak terlalu diinjak, gas masih terinjak kencang, bagaimanapun setir sudah maksimal mengubah arah mobil menjadi berbelok maka mobil tidak akan berbelok dengan sempurna. Menabrak dan menghancurkan mobil sudah mungkin akan terjadi. Di sini rem dan gas tidak bekerja dengan kekuatan yang seimbang sesuai peran, padahal setir sudah berupaya. 
Lalu bagaimana agar semua kekuatan seimbang dalam arti sesuai porsi peran dengan semangat yang sama? Dengan kesolidan, solidaritas. Bahasa lebih gampangnya adalah menyatu. Batu yang padat atau solid akan menggores luka lebih dalam ketika dilemparkan ke manusia disbanding batu apung yang berongga. Batu apung yang butiran-butiran penyusunnya tidak se-“dekat” dan “bersatu” batu kali karena memiliki rongga atau batas antara satu butiran dengan butiran yang lain akan mudah terbawa arus dan tergerus. Ia mudah terombang-ambing di permukaan mengikuti arus, lalu perlahan tergerus, serta tidak bias langsung teguh jatuh dan menetap di dasar sungai seperti batu kali. Untuk bias bersatu, dibutuhkan rasa saling memiliki antarbutiran dan rasa memiliki pada “wadah” batu itu sendiri. Jika sudah saling memiliki, saat yang satu hilang maka yang lain akan mencari untuk mnegajaknya kembali bersatu. “wadah”nya itu sendiri juga tidak akan membiarkan apa yang “ditampung”nya lepas begitu saja. Jika sudah bersatu, merasa dekat, bergerak bersama untuk membentuk kekuatan komunal pun lebih mudah. Bila sudah seperti itu, tujuan komunitas mana yang tidak akan tergapai? 
Indonesia tidak bias segera menjadi Negara maju juga disebabkan belum adanya orang yang bias menggerakkan kekuatan komunal. Orang tersebut maksudnya pemimpin yang memiliki kepemimpinan untuk menggerakkan. Pemimpin tersebut tidak boleh terlalu bersifat dictator atau malah sebaliknya yang terlalu lemah. Kecenderungan pemimpin haruslah mampu mendelegasikan suatu tugas atau amanah kepada orang yang dipimpinnya. Pendelegasian tersebut harus dilandaskan kepercayaan. Jangan sampai lemah atau bahkan ketiadaan kepercayaan itu membuat suatu kepemimpinan menunjukkan adanya one man show sebagai superman, bukan superteam. Padahal one man show mengindikasikan sifat pemimpin tersebut sebagai single fighter. Dalam mencapai tujuan bersama dengan membangun kekuatan komunal, pemimpin tidak boleh menjadi single fighter karena ketidakpercayaan kepada anggota untuk menyelesaikan perintahnya dengan baik. Anggota pun harus mempercayai pemimpin yang membawanya mencapai tujuan bersama. Sebab gir yang berkualitas tidak akan berfungsi maksimal jika ia bagus sendiri, maka ia harus menjadi bagus bersama-sama dengan kekuatan komunal yang mumpuni agar mesin dapat menggerakkan mobil dengan baik. 

Do it with Passion


Manusia terlahir dengan bakat yang berbeda-beda. Tuhan sengaja membuatnya seperti itu agar menjadi keunikan masing-masing individu. Bakat didapat saat pembentukan otak dan pertumbuhan. Bakat bertalian erat dengan kecakapan untuk melakukan sesuatu (Notoatmodjo, 1997). Secara sederhana, bakat juga dapat disebut sebagai suatu potensi bawaan sejak lahir (kemampuan terpendam) yang memungkinkan seseorang memiliki kemampuan atau keterampilan tertentu. Kemampuan ini didapat setelah melalui proses belajar atau berlatih dalam rentang waktu tertentu. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah proses belajar dan melatih bakat. Bukan berarti karena bakat merupakan bawaan sejak lahir kemudian ia tetap memiliki hasil bagus meski tidak dilatih. Untuk mempelajari hal yang merupakan bakat tetap memerlukan waktu yang tidak sedikit, meski tidak dapat dipungkiri bahwa waktu yang dibutuhkan untuk melatih bakat relatif lebih cepat dibandingkan melatih keterampilan biasa. Misalkan X mudah berteman namun dia tidak bisa matematika. Proses berkenalan yang dilakukan X dipahami lebih cepat oleh X dibandingkan proses belajar matematika. Bukan berarti X tidak berbakat di bidang matematika, melainkan kemampuannya dalam hal tersebut lebih rendah daripada kemampuannya bergaul. Bakat hanyalah kemampuan lebih cepat untuk mempelajari sesuatu, bukan seketika mampu, sehingga memang harus dipancing kemudian dilatih. 
Lalu bagaimana cara mengembangkan bakat? Do it with passion!
Passion adalah gairah, semangat yang menggebu-gebu. Passion didapatkan dengan menjalankan apa yang kita kerjakan dengan hati, menganggapnya sebagai panggilan hati. Pekerjaan atau jabatan bukanlah passion. Kedua hal tersebut hanyalah alat. Yang kita cari adalah kenikmatan dalam proses menjalani pekerjaan kita. Kenikmatan itulah yang disebut passion
Jika passion dianggap sama seperti bakat, sesungguhnya kedua hal ini berbeda namun berkaitan. Passion adalah gairah, sesuatu yang membuat kita enjoy dalam melakukan sesuatu. Ibarat produksi, bakat adalah bahan baku, passion merupakan proses pengolahan, kemudian prestasi atau keberhasilan adalah bahan jadi. Jika bahan baku bagus karena ia merupakan bakat, dengan proses yang biasa saja maka ia akan menjadi barang jadi yang bagus. Bila bahan baku biasa saja namun diproses dengan baik maka hasilnya dapat mengalahkan hasil dari bahan baku yang diproses secara biasa. Apalagi jika bahan baku berkualitas baik dan diproses dengan sangat baik pula maka hasilnya akan melebihi kedua barang jadi lainnya. Bakat memang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Kita tidak bisa memilih keunikan tersebut sendiri. Yang dapat dilakukan adalah memberikan proses terbaik atas kemampuan, bakat, potensi yang kita miliki, bagaimanapun kualitasnya. Proses terbaik tersebut diperoleh dari perasaan enjoy dan menikmati proses atas apa yang dilakukan. Suatu hal yang kita enjoy dalam melakukannya memang belum tentu merupakan bakat, tetapi jika enjoy dan juga merasa senang dalam menjalaninya, hasil yang didapat akan baik dan bahkan bisa mengalahkan bakat. Hal ini dapat terjadi pula sebaiknya. Maka, kita sendiri yang menentukan akan memilih hasil yang bagus secara biasa, lebih dari biasa, atau yang luar biasa?
“It is NOT what you are good at. It is about what you enjoy the most!”
Lalu bagaimana cara meningkatkan kualitas proses tersebut? Siapkan hati dan pikiran yang ikhlas dan semangat. Modal ini penting agar passion dapat menggiring kita ke produktivitas dan kreativitas yang lebih lalu membawa kita ke kebermanfaatan yang lebih pula. Ketika kita harus melakukan suatu pekerjaan yang bukan bakat kita, terlebih harus menghabiskan waktu lebih lama dalam mempelajarinya, so just do it with passion! Passion akan membantu keluar dari zona “tersiksa”. Jika tetap merasa “tersiksa”, jangan menyerah untuk mencari passion yang tepat karena ia terkadang tak datang begitu saja. Untuk hal yang (terlanjur) dijalani, berusaha survive adalah kewajiban. Mencari passion dilakukan dengan tetap menjadi diri sendiri dan mencintai serta menikmati apa yang memang kita senang melakukannya. Percayalah, setiap orang terlahir unik dan keunikan itu pula yang menjadi passion kita. Jangan biarkan passion terhalang hanya karena rasa takut untuk gagal atau mendengar pendapat orang lain. Live it with passion!


Jumat, 05 Juni 2015

Urgensi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Sejarah FKM UI

Berbicara tentang kesehatan, yang terbayang adalah dokter dan pasien yang terkena penyakit. Padahal kesehatan tidak sesimpel itu. Penyakit bisa dicegah atau setidaknya dikurangi perluasan wabahnya dengan upaya preventif dan promotif. Apalagi tidak semua penyakit benar-benar murni disebabkan oleh mikroorganisme. Ada banyak factor yang menyebabkan sakit itu datang, salah satunya gaya hidup dan perilaku. Kita tidak bisa terus-menerus menangani penyakit saja, tetapi kita juga harus tau bagaimana mengontrol agar penyakit tersebut tidak meluas.
Kesehatan tidak hanya berbicara tentang rumah sakit dan puskesmas beserta isinya. Semua orang adalah anggota masyarakat, dan semua orang butuh untuk sehat. Masyarakat hidup di berbagai lingkungan baik untuk bekerja maupun hanya berdiam. Di rumah, kita perlu tahu apa saja yang seharusnya dilakukan ibu hamil, tahu mengapa ibu hamil rentan dengan kucing, mengerti mengapa bayi harus asi eksklusif 6 bulan, dsb. Di industri, dalam pelaksanaannya dibutuhkan prosedur kesehatan dan keselamatan yang benar untuk mencegah kecelakaan kerja. Di lingkup pemerintahan dan sistem kesehatan, dibutuhkan suatu kebijakan dan sistem kesehatan yang baik untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Bahkan, di dalam kapal sekalipun dibutuhkan tenaga kesehatan untuk mengecek apakah kapal tersebut menimbulkan bahaya kesehatan atau tidak bagi penumpang. Itulah mengapa ada Kesehatan Masyarakat. Sebab Kesehatan Masyarakat memegang sistemnya, dan menjadi otak berjalannya tenaga-tenaga kesehatan yang lain seperti dokter, perawat, dokter gigi, farmasis, dan bidan agar bekerja sesuai koridor yang diatur Kesehatan Masyarakat. Cakupan yang dimiliki Kesehatan Masyarakat sangat luas. Bahkan serumit ekonomi pun ada pembahasannya.
Ketika banyak orang menganggap dokter adalah segalanya bagi dunia kesehatan, masyarakat luar negeri tidak terlalu berpikir demikian. Mereka menganggap bahwa public health (kesehatan masyarakat) dan clinical medicine (dokter) serta ekologi (lingkungan) adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ini adalah saat untuk mengintegrasikan keduanya. Selama abad 20, public health telah memperpanjang harapan hidup manusia dan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas dari banyak penyakit di seluruh dunia. Dokter bergerak untuk individu dan keluarga. Kesehatan masyarakat bergerak untuk public (komunitas dan populas), dengan cakupan bidang sosial, lingkungan dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. Public health memilih apa yang terbaik untuk individu dan apa yang terbaik untuk populasi dan komunitas.
Kekhawatiran para dokter yang berada di FK UI atas ketidakhadirannya sifat preventif dan promotif dalam upaya kesehatan menjadi dasar pendirian FKM UI sebagai fakultas baru. Hal ini  utamanya digagas oleh dr. Mochtar. Di masa awal FKM UI, struktur dekanat dan jajaran pengajar merupakan dokter dari FK UI karena pada awalnya ilmu kesehatan masyarakat berada di bawah FK UI. Hingga kini pun masih banyak dokter yang berkecimpung di FKM UI. Yang belajar di FKM UI pun ada yang dari FK maupun FKG. Alasan mereka satu: ilmu yang ada di kedokteran belum cukup untuk menangani masalah kesehatan keseluruhan, sebab kedokteran hanya berfokus pada individu yang tentunya memiliki permasalahan sendiri satu dengan lainnya.  Sehingga kini FK dan FKM merupakan mitra kerjasama sampai nanti benar-benar ada di lapangan kerja. FKM UI juga memiliki banyak kerjasama dengan public health di seluruh dunia. Contohnya kerjasama dengan Bloomberg School of Public Health di Amerika, menjadi inisiator Indonesia One Health University Network (INDOHUN), WHO, USAID, dan sebagainya. FKM UI yang merupakan FKM tertua dan terbaik se-Indonesia memiliki banyak pusat penelitian kesehatan seperti Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan, Pusat Riset Kesehatan untuk Krisis dan Bencana, dll.
Kesehatan Masyarakat memang tidak bisa mengobati pasien, namun ia bisa menyuruh dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk menangani pasien bahkan masalah kesehatan di individu dan masyarakat.

Sabtu, 27 Desember 2014

Keluarga

Keluarga

Ada Ibu, Ayah, Kakak, dan atau Adik.

3 sebutan di atas untuk pengisi keluarga inti, berapapun anggotanya.

Apa fungsi mereka?

Tempat menanam dan menumbuhkan kebaikan. Membentuk pondasi. Sehingga kelak jika harus pergi, ada sebuah kewajiban untuk kembali. Kembali untuk merapihkan dan merekonstruksi pondasi yang mungkin tergerus arus dunia. Yang mungkin tak lagi sekuat kala sebelum ia pergi. Kala pondasi kebaikan masih mudah dirawat dan ditata tanpa gangguan.

Benar. Kita tidak bisa hidup tanpa landasan, tanpa tempat.

Allah memang menyuruh kita untuk bersandar kepada-Nya. Dan keluarga adalah salah satu medianya.

Jika engkau lelah, pulanglah.

Ada senyum yang tak akan terhenti,
ada kehangatan yang tidak pernah terkikis,
dan pasti ada ketenangan yang tidak tertepis..

Bukan dari apa, melainkan siapa.

Iya, keluarga.

Merasa tidak cocok?

Ah itu hanya masalah waktu. Ada saat-saat tertentu di mana sebuah "tempat" tidak memberi seperti kapasitas porsi biasa. Dia juga suatu hal yang sama-sama perlu pembenahan. Caranya ya dengan ketidakcocokan tadi,yang membuat solusi menjadi tujuan berharga yang harus dicapai bersama, dengan kita turut serta di dalamnya.

Ini yang membentuk keterikatan. Sebuah tempat bernama keluarga, memang tidak akan sempurna. Itulah mengapa ia dibentuk dari berbagai karakter, disatukan dengan darah. Agar kebersamaannya saling ada, berkait, bergantung, dan membentuk kesempurnaan. Meski selamanya tak akan ada yang bisa sesempurna Pencipta.

Yah setidaknya. Menjadi sebuah bagian dari keluarga itu penting. Jadi, seberapa jauh dan berapa pun lama jiwa memisah, pasti akan rindu untuk kembali. Ke tempat asal, di mana hidup ditakdirkan untuk memulai. Pergi untuk kembali dan memulai kepergian yang baru lagi.

Keluarga adalah tempat pulang terbaik. Asal tidak ke keluarga untuk pulang (means: menjadi tempat singgah), namun pulang untuk (re: demi) keluarga.


Yang Didengar, Yang Dihafal

Cerita malam ini
Aku sedang memulai langkah awal terwujudnya mimpi bersama yg terucap kala TEBBAL part 1. Samar terdengar murottal. Lebih samar lagi terdengar orang mengucap sama dengan yang terputar. Iseng, aku bertanya ke sumber suara,
Hafalannya berapa?
Sang sumber suara menjawab,
"Ah jangan ditanya. Ga banyak. Saya bisa ngikuti karena sering denger. Kalo spelling dari awal sampai akhir tidak bisa."
Masya Allah
Masih ada pemuda yg menjadikan murottal sebagai pengiring kerja favorit. Sedangkan aku?
Masya Allah
Hanya dengan sering mendengar, Al-Qur’an mudah menancap di ingatan dan hati orang. Bila ditambah serius menghafal dan mengulang, pasti akan cemerlang.
Namun jika yg sering didengar bukan murottal lalu dihafal dan diulang? Apa jadinya?
Astaghfirullah

Engkaulah Keluarga, di Samping yang Sesunnguhnya

Jika aku boleh berkata,
Maka sejujurnya aku bukan orang yg dekat dgn keluarga.
Tidak jarang bingung tentang apa fungsi mereka.
Sering iri dgn mereka yg bisa menyatu dgn darahnya.
Kalau pun ada kesempatan,
quality time pun susah didapat feelnya.
Entah sebab apa.
Seiring berkurangnya usia,
Tergeraklah untuk membangun seperti sedia.
Mungkin terlambat.
Ah setidaknya aku bisa bercerita.
Kemudian mendengar petuahnya.
Dan kini,
Aku diherankan dgn adanya sebuah rasa.
Sebuah rindu.
Seonggok kangen yg menonjok dada dan seakan berkata,
"Woy kamu selama ini ngapain aja?"
Kemudian,
Hp dipegang, ingin bertanya,
"Apa kabar? Di rumah ada kejadian apa?"
Tapi,
Sebuah kecanggungan,
Ditambah sedikit keegoisan,
Mungkin tersempil juga kegengsian,
Muncul karena terbiasa.
Ah aku kenapa?
Mau sampai kapan?
Demikian sebuah kosong di luar isi yg aku tumpahkan.
Terima kasih telah memberiku jawaban tentang apa yg disebut keluarga,
Menemukan makna “keluarga” sesungguhnya,
Bahkan mengetahui arti kalian sebagai keluarga :)
Sejatinya,
Keluarga adalah tempat pulang.
Tempat kau mendapat makna kehidupan.

Bersyukurlah engkau tidak terlambat mengetahuinya,
Doakan aku bisa membangun kehangatan keluarga yg sama :)
Di sisa gerimis depok, 27.12.14
Pasca TEBBAL part 1

Gadis Penunggu Hujan

mengapa hujan ditunggu?
karena hujan adalah rahmat dari-Nya. tanda bahwa Dia sedang berbaik hati mengabulkan segala permintaan hamba-Nya. simbol disebarkannya rizqi bagi setiap yang bernyawa. ketika rahmat disebar, timbullah kebahagiaan.

seringkah kita perhatikan apa yang hati kita rasakan sepanjang turunnya hujan?
jika kebahagiaan itu belum terasa,
mungkin karena kita sedang mengharapkan sesuatu yang dengan hujan hal itu sulit kita raih, misalnya bepergian atau menghadiri suatu acara.
namun, di samping segala pikiran yang menerpa,
di suatu lapis hati kita, tersemayam rasa damai. damai di sini berarti tenang, seakan tidak mengkhawatirkan apa-apa.
sering kita merancukan pikiran dengan hati.
memang hati mempengaruhi pikiran. tapi pikiran bisa membuat apa yang dirasakan hati menjadi samar, tak nampak. 
begitupun kala hujan.
ketika kita sebal karena gagalnya melakukan berbagai hal dan timbulnya bencana akibat curah tak tertahankannya, itu murni karena pikiran kita.
tiap bunyi jatuhnya tetes bahkan guyuran air hujan tetap memberikan efek ketenangan dan menjernihkan pikiran. asal kita mau sejenak membiarkan pikiran dan hati sama-sama diam meresapi sensasi yang dibawa hujan.
jadi, aku menunggu hujan.
menunggu agar bisa seperti hujan yang menebar manfaat. meski dalam porsi parah dan wadah tidak terarah aku berpotensi membawa bahaya, setidaknya pengolahan yang tepat bisa mengontrol tidak terjadinya bencana. kurang lebih kehadiranku dirindukan ketika kehidupan mengering, ditunggu saat aku menjadi perantara pertolongan dan rizqi dari Allah, dan dinantikan kehadirannya untuk menenangkan.
menunggu bukan berarti diam. namun bergerak mewujudkan itu semua tanpa berkomentar dan keluhan macam-macam.
hujan memang tidak sesempurna yang diinginkan. datang tidak selalu tepat di saat dibutuhkan. tapi setidaknya, aku bisa seperti hujan yang keberadaannya melestarikan kehidupan :)

Ketika Kamera Menangkap Sudut


Lautan Ungu Demi KeJAYAan Ungu


A Little Palestina's Blood Smile 




Ada Warna Antara Hitam dan Putih


Downstairs


Who's Siluet?


Sisi Lain Danau UI


Hijau Di Tengah Panas Jakarta


Mungkin bagi orang ini jepretan biasa. Tidak berseni, tidak bermakna.
Tapi bagiku, lihatlah dari sudut pandang berbeda. 

Mayoritas gambar di atas diambil secara tidak sengaja. Menyalakan kamera, lalu ambil. Setelah dilihat, -menurutku- alhamdulillah bagus. 

Sama seperti kehidupan.

Kadang makna dari setiap kejadian, atau mungkin hal sesimpel benda-benda di sekitar kita, muncul tiba-tiba tanpa harus kita berpikir dia bermakna atau tidak. Hikmah pun demikian. Terkadang tanpa mencari dan berpikir mendalam ia hadir. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Maukah kita menerimanya dan mengamalkannya? Semua itu didasarkan pada hati. Kembali lagi ke hati. Maukah hati kita merendah menerima segala pemberian-Nya melalui hal-hal yang mungkin menurut sebagian orang remeh? Karena hasil dari jepretan sudut pandang hati dan pikiran bisa menghasilkan karya amal yang indah, asal mau merenung dan meresapi karunia-Nya :)

Jumat, 26 Desember 2014

10 Tahun Tsunami Aceh, di Mata Saksi Hidupnya Sendiri

*Kumpulan tweet dari Kessa Ikhwanda Thamrin, mahasiswa FKM UI 2014, yang menjadi saksi hidup Tsunami Aceh 10 tahun lalu, dikumpulkan dari akun @KessaIkh_Ofc*
Hari ini adalah peringatan ‪#‎10thnTsunami‬ yang melanda Aceh, tepatnya tanggal 26 Desember 2004 lalu. Sebuah tragedi yang menjadi sejarah
Agak sulit utk mengingat kembali 10 tahun lalu, tapi ketika itu dipertanyakan rasanya sejarah harus kembali diceritakan #10thnTsunami
Bismillah, 26 Desember 2004 #10thnTsunami | 10 Tahun yang lalu..... saya masih kelas 3 SD | Waktu itu fajar begitu indah nan menawan
Masih teringat jelas ketika wajah menggoreskan kebahagiaan, lewat senyum dan tawa berkumpul bersama keluarga tercinta #10thnTsunami
Pukul 7 pagi, seorang pria datang ke rumah, sudah menjadi tanggungjawabnya utk membawa surat dari pelabuhan dan sebaliknya #10thnTsunami
Kehadirannya selalu memberikan warna dan cerita yang berbeda, lewat berbagai barang yang selalu dihadiahkannya #10thnTsunami
Kata terakhir yg terucap dari lisannya “Saya akan ke pelabuhan dan kembali lagi” | Tp hingga kini tak ada lgi kabar.... #10thnTsunami
Tak tau dgn apa harus membalas jasa, semoga doa dpt menempatkan beliau selalu disinggasana terbaik dlm lindungan-Nya #10thnTsunami
7.30 | Niat awal ingin ke pantai, menerpa laut di bawah mentari. Tapi tak kunjung pergi karena suatu hal #10thnTsunami
Ada satu saat dimana semua tiba-tiba hening, tanpa ada satupun suara yang berani unjuk diri.... hening dlm keheningan #10thnTsunami
Sesaat kemudian bumi bergoncang kuat, hingga tak tau harus kemana diri menepi | Pohon dan bangunan roboh seketika #10thnTsunami
Masih teringat wajah yg meminta tolong dibalik reruntuhan, begitu banyak, sampai tidak tau harus bagaimana #10thnTsunami
Bumi bergetar, tanah tak lagi diam, benda-benda sekeliling seolah berontak, benar-benar kepanikan yg tak tau arah #10thnTsunami
Sesaat semuanya berhenti, kami coba menenangkan diri, coba utk saling peduli... tapi ada hal lain yg blm kami ketahui #10thnTsunami
Terdengar suara ledakan yg amat keras seolah gemuruh pertanda perang dimulai, disusul dgn teriakan seorang wanita... #10thnTsunami
Ie Laot ka LUAP!!....., teriaknya dgn kencang sambil berlari pontang-panting diikuti dengan jerit-tangis orang lain #10thnTsunami
KIAMAT!!! Itu kata yg terucap, beriring dengan doa dan takbir | Begitu banyak air mata yg bercucuran saat itu..... #10thnTsunami
Tangisan seorang ibu memeluk anaknya, seorang bapak mencium kening putranya, bahkn seorang pria yg berlari tanpa arah #10thnTsunami
Dari atas jembatan saya melihat arus sungai dengan derasnya, berubah arah, behkan berubah warna menjadi hitam pekat #10thnTsunami
Banyak sekali material bangunan yg tergerus, bangkai hewan yg seolah hangus, bahkan korban manusia yg terbawa arus #10thnTsunami
Sampai sekarang masih terdengung di telinga ketika suara minta tolong dari orang-orang yg hanyut dan tenggelam… #10thnTsunami
Niat hati ingin menolong, tp apa daya diri tak mampu, ketika raga ini masih takut utk berbuat dan diam menjd pilihan #10thnTsunami
Kami sekeluarga lari mengungsi, sepanjag itu banyak terjd kepanikan dan minta tlg, tapi saling menguatkan dgn doa #10thnTsunami
Di pengungsian hanya bisa berdoa, apa yg tadinya terlihat perlahan menjadi trauma, apalagi kabar kehilangan keluarga #10thnTsunami
Kehilangan sanak saudara, keluarga bahkan orang yang sangat berarti menjadi pukulan tersendiri bagi diri waktu itu #10thnTsunami
Kegelapan menyelimuti malam, tanpa satupun cahaya yang menerangi selama 3 hari lamanya #10thnTsunami
Selama itu saya hanya diam dan Trauma membuat saya sulit tidur krn terus membayang serta takut melihat arus air #10thnTsunami
Sungguh Allah SWT yang Maha Bijaksana, yang punya rencana tersendiri, dan setiap dari itu pasti ada hikmah #10thnTsunami
Semoga para syuhada korban Tsunami di tempatkan disinggasana terbaik yang selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin #10thnTsunami
Sekian kisah saya…. semoga bermanfaat #10thnTsunamipic.twitter.com/3oXbGjSrMl
#10thnTsunami 26 Desember 2004 – 26 Desember 2014 | Aceh terus bangkit untuk menggapai keJAYAan @iloveaceh #WeForJAYA
Saksi hidup peristiwa akbar itu sobat kita sendiri. MaasyaAllah (Chyntia A M, FKM UI 2014)

Near The End of 2014

Setahun yang semoga menjadi salah satu langkah perbaikan diri, yang komprehensif dengan tahun-tahun berikutnya. Terima kasih untuk semua yang telah hadir mengisi cerita di tahun ini. Mungkin hanya sehari, mungkin juga minggu, bulan, bahkan setahun penuh. Apapun itu, tanpa kalian, tahun ini tidak akan sekompleks ini 

Rabu, 17 Desember 2014


Dua Dilema Mahasiswa

Sering mahasiswa dihadapkan pada dua pilihan: organisasi atau akademik. Keduanya dibayang-bayangi oleh selembar transkrip: CV atau IP. Jika fokus di salah satunya, yang kedua akan terabaikan, terbengkalai. Pemilihan arah fokus pun harus dipikir matang-matang. Apa manfaatnya? Apa pengorbanannya? Apa umpan baliknya? Baik. Ketiganya memiliki konsekuensi dan kadar masing-masing. Sudut pandang setiap orang pun mengupas dari sisi yang berbeda-beda.
Sebenarnya apapun pilihannya, kedua pilihan ini sama-sama menyedot perhatian lebih. Karena terlalu banyak jadwal dan hal-hal yang harus dikejar, kemampuan manajemen waktu dan penempatan skala prioritas menjadi kebutuhan mendesak. Waktu yang ada selalu tersedot. Yang dulunya ada waktu untuk menghabiskan 3 jam minum kopi, kini harus menenggak secangkir kopi untuk bertahan 3 jam di waktu malam. Konsentrasi pun begitu. Terkadang ada hal-hal yang sengaja maupun tidak harus skip dari prioritas. Dipandang sinis teman akrab yang berbeda orientasi pun menjadi hal biasa. Dianggap sombong karena sudah jarang untuk bergabung bersama-sama.
Tapi, kembali ke awal. Semua memiliki tujuan, kan?
Apapun pilihannya, semua adalah pilihan baik jika dilandasi dengan niat yang baik. Mengejar IP agar diterima di perusahaan yang menjadi target sasaran dakwah, agar bisa menempati posisi strategis instansi pemegang kebijakan demi mencegah terjadinya mudhorot bagi ummat, itu niat baik. Sibuk organisasi supaya dakwah bisa meluas di kalangan manapun, supaya nilai Islam tetap merasuk ke kegiatan-kegiatan kampus, juga merupakan niat baik. Tidak ada yang salah.
Lalu, apa yang dipermasalahkan?
Yang dipermasalahkan adalah apa yang ada di dalam niat tersebut. Apakah ada Allah? Apakah ada niatan lain semisal predikat “mahasiswa pinter, kece, keren dengan segala prestasi di segala kesibukan”? Apakah teringat surga dan neraka yang menjadi balasan akhir apa yang kita lakukan, termasuk pilihan mengejar akademis dan atau organisasi?
 Ya, apakah ada Allah di lubuk terdalam niat kita. Tingkatan pertama status manusia yang telah bersyahadat adalah muslim. Penanda bahwa kita layak disebut muslim adalah ketika kita telah melaksanakan rukun Islam. Apa hanya itu? Tidak. Muslim adalah julukan bagi orang yang berserah diri, yang hanya ditujukan pada Allah. Bukan berarti tidak berusaha lalu menyerahkan segalanya pada-Nya dengan harapan Dia yang menyelesaikan semuanya. Pasrah di sini lebih kepada memasrahkan segala upaya kita untuk dinilai dan diberi hasil yang terbaik menurut-Nya. Meski mungkin bagi kita tidak sebanding, asalkan itu adalah keputusan Allah, itulah yang terbaik.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa poin penting atas kedua hal yang menjadi dilema di atas adalah menjadi ilmuwan atau saintis dan atau organisatoris dengan tidak melupakan identitas diri sebagai muslim. Semoga penulis dan pembaca sama-sama diberi kemudahan untuk berjuang di jalan Allah baik melalui akademik maupun organisasi. Aamiin.