Rabu, 28 Oktober 2015

Pengendalian Tembakau Mematikan Petani Tembakau, Benarkah?


Indonesia adalah surga produk hasil tembakau alias rokok bagi industri rokok dan penikmatnya. Hal ini dikarenakan regulasi atau pengendalian tembakau belum cukup kuat diterapkan. Pengendalian tembakau akan membuat petani tembakau menjadi bangkrut, yang kemudian akan menjatuhkan perekonomian Indonesia. Petani tembakau selalu menjadi alasan mengapa pengendalian tembakau tidak boleh ditegakkan. Sebenarnya mana petani yang dimaksud? Petani tembakau digaji lebih rendah daripada upah minimum regional kabupaten/ kota tempat mereka menanam tembakau. Hasil penelitian pada tahun 2008 mengatakan bahwa di Kendal, Jawa Tengah, petani tembakau hanya diberi upah Rp. 15.889,00 per hari atau Rp. 413.374,00 per bulan. Upah tersebut kurang dari separuh upah minimum setempat sebesar Rp. 883.699,00. Kondisi ini terjadi juga di wilayah penghasil tembakau lainnya yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lombok Timur dengan rincian angka yang sedikit berbeda. Pengendalian tembakau ditakutkan akan semakin memperburuk kehidupan petani tembakau. Jika benar petani tembakau harus dilindungi, seharusnya mereka berhak hidup sejahtera dengan upahnya. Sayangnya, upah menyentuh angka minimum saja tidak.
Jumlah petani di tiga provinsi tersebut belum mampu memproduksi tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok. Menurut Statistik Perkebunan Indonesia, produksi tembakau Indonesia pada tahun 2007 hanya mencapai 164.851 ton. Angka ini jelas tak memenuhi kebutuhan industri sebesar 220.000 ton, sehingga industri harus mengimpor tembakau yang angkanya terus-menerus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), impor tembakau mencapai $10,09 juta pada Januari-April 2011, atau meningkat 267% dari periode sebelumnya pada Januari-April 2010. Pengendalian tembakau juga dikhawatirkan akan membunuh produksi lokal dengan melegalkan impor dan memberhentikan produksi dalam negeri. Bila benar petani tembakau dilindungi, seharusnya upah mereka ditingkatkan dan atau jumlah mereka ditambah agar produksi menguat, bukan malah mengimpor yang malah akan mematikan produksi lokal.
Memperjuangkan petani tembakau seakan hanya bualan, nyatanya sulit untuk membuat mereka bertahan. Jumlah mereka yang hanya berada di tiga provinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat diagung-agungkan seakan mereka tersebar di ke-34 provinsi di Indonesia. Di ketiga provinsi yang dimaksud pun lahan tembakau tidak mencakup seluruh kabupaten/ kota di dalamnya. Bagaimana bisa jumlah yang sesedikit itu berdampak signifikan terhadap skala nasional Indonesia? Pengendalian tembakau tidak akan mematikan produksi tembakau lokal semerta-merta, ia hanya membatasi peredarannya. Pengendalian tembakau justru membantu petani tembakau dengan mengatur berapa harga yang mereka dapat untuk produksi mereka dan membatasi impor. Seharusnya pemerintah lebih mengaca, hak siapa yang sedang diperjuangkan?

Sumber: Chamim, Mardiyah, Wahyu Dhyatmika, and Farid Gaban. A Giant Pack Of Lies - Bongkar Raksasa Kebohongan Industri Rokok. Jakarta: KOJI Communications bekerja sama dengan TEMPO Institute, 2011. Print.

Jumat, 02 Oktober 2015

Urgensi Soliditas dan Kekuatan Komunal


Manusia adalah makhluk sosial yang butuh hidup berkomunitas. Kegiatan yang dilakukan pun tidak jauh dari bekerjasama atau seminimalnya adalah berhubungan dengan orang lain. Banyak tujuan yang harus dicapai bersama tanpa mengesampingkan tujuan pribadi. Tujuan bersama yang harus dicapai tentunya membutuhkan kekuatan komunal atau kekuatan bersama. Satu orang akan berperan dan membutuhkan peran orang lain. Ibarat mesin mobil, di dalam mesin ada gir-gir yang bekerja berdampingan dan saling menggerakkan. Satu saja yang bergerak tidak sesuai arah atau peran, maka yang lain dapat terhenti atau bertabrakan. Tujuan bersama yang dicapai mesin mobil tersebut untuk membuat mobil bergerak berpindah tempat tak akan tercapai. Di luar system gir tersebut terdapat pelumas yang membantu melancarkan perpindahan gir. Selaras dan sejalan apapun system gir, ketika pelumasnya habis, maka pergerakannya melambat dan malah merusak gir itu sendiri. Bahkan system gir yang bias dianalogikan dengan komunitas atau sekelompok manusia pun mmebutuhkan system atau komponen alias peran pihak lain yang mendukung kegiatannya. Dalam hal kehidupan manusia, system atau komponen tersebut bias berupa kelompok atau komunitas dan orang lain. Usaha yang dilakukan system gir bersama system dan komponen lainnya perlu kekuatan yang sama, semangat yang sama untuk mencapai tujuan, meskipun dengan cara atau peran yang berbeda. Saat kekuatan komunalnya mengendur, pihak di dalam komunitas tersebut harus saling menguatkan agar tidak terjadi ketimpangan antarkomponen dalam system. Sama seperti mobil yang hendak berbelok ke kanan. Saat rem tidak terlalu diinjak, gas masih terinjak kencang, bagaimanapun setir sudah maksimal mengubah arah mobil menjadi berbelok maka mobil tidak akan berbelok dengan sempurna. Menabrak dan menghancurkan mobil sudah mungkin akan terjadi. Di sini rem dan gas tidak bekerja dengan kekuatan yang seimbang sesuai peran, padahal setir sudah berupaya. 
Lalu bagaimana agar semua kekuatan seimbang dalam arti sesuai porsi peran dengan semangat yang sama? Dengan kesolidan, solidaritas. Bahasa lebih gampangnya adalah menyatu. Batu yang padat atau solid akan menggores luka lebih dalam ketika dilemparkan ke manusia disbanding batu apung yang berongga. Batu apung yang butiran-butiran penyusunnya tidak se-“dekat” dan “bersatu” batu kali karena memiliki rongga atau batas antara satu butiran dengan butiran yang lain akan mudah terbawa arus dan tergerus. Ia mudah terombang-ambing di permukaan mengikuti arus, lalu perlahan tergerus, serta tidak bias langsung teguh jatuh dan menetap di dasar sungai seperti batu kali. Untuk bias bersatu, dibutuhkan rasa saling memiliki antarbutiran dan rasa memiliki pada “wadah” batu itu sendiri. Jika sudah saling memiliki, saat yang satu hilang maka yang lain akan mencari untuk mnegajaknya kembali bersatu. “wadah”nya itu sendiri juga tidak akan membiarkan apa yang “ditampung”nya lepas begitu saja. Jika sudah bersatu, merasa dekat, bergerak bersama untuk membentuk kekuatan komunal pun lebih mudah. Bila sudah seperti itu, tujuan komunitas mana yang tidak akan tergapai? 
Indonesia tidak bias segera menjadi Negara maju juga disebabkan belum adanya orang yang bias menggerakkan kekuatan komunal. Orang tersebut maksudnya pemimpin yang memiliki kepemimpinan untuk menggerakkan. Pemimpin tersebut tidak boleh terlalu bersifat dictator atau malah sebaliknya yang terlalu lemah. Kecenderungan pemimpin haruslah mampu mendelegasikan suatu tugas atau amanah kepada orang yang dipimpinnya. Pendelegasian tersebut harus dilandaskan kepercayaan. Jangan sampai lemah atau bahkan ketiadaan kepercayaan itu membuat suatu kepemimpinan menunjukkan adanya one man show sebagai superman, bukan superteam. Padahal one man show mengindikasikan sifat pemimpin tersebut sebagai single fighter. Dalam mencapai tujuan bersama dengan membangun kekuatan komunal, pemimpin tidak boleh menjadi single fighter karena ketidakpercayaan kepada anggota untuk menyelesaikan perintahnya dengan baik. Anggota pun harus mempercayai pemimpin yang membawanya mencapai tujuan bersama. Sebab gir yang berkualitas tidak akan berfungsi maksimal jika ia bagus sendiri, maka ia harus menjadi bagus bersama-sama dengan kekuatan komunal yang mumpuni agar mesin dapat menggerakkan mobil dengan baik. 

Do it with Passion


Manusia terlahir dengan bakat yang berbeda-beda. Tuhan sengaja membuatnya seperti itu agar menjadi keunikan masing-masing individu. Bakat didapat saat pembentukan otak dan pertumbuhan. Bakat bertalian erat dengan kecakapan untuk melakukan sesuatu (Notoatmodjo, 1997). Secara sederhana, bakat juga dapat disebut sebagai suatu potensi bawaan sejak lahir (kemampuan terpendam) yang memungkinkan seseorang memiliki kemampuan atau keterampilan tertentu. Kemampuan ini didapat setelah melalui proses belajar atau berlatih dalam rentang waktu tertentu. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah proses belajar dan melatih bakat. Bukan berarti karena bakat merupakan bawaan sejak lahir kemudian ia tetap memiliki hasil bagus meski tidak dilatih. Untuk mempelajari hal yang merupakan bakat tetap memerlukan waktu yang tidak sedikit, meski tidak dapat dipungkiri bahwa waktu yang dibutuhkan untuk melatih bakat relatif lebih cepat dibandingkan melatih keterampilan biasa. Misalkan X mudah berteman namun dia tidak bisa matematika. Proses berkenalan yang dilakukan X dipahami lebih cepat oleh X dibandingkan proses belajar matematika. Bukan berarti X tidak berbakat di bidang matematika, melainkan kemampuannya dalam hal tersebut lebih rendah daripada kemampuannya bergaul. Bakat hanyalah kemampuan lebih cepat untuk mempelajari sesuatu, bukan seketika mampu, sehingga memang harus dipancing kemudian dilatih. 
Lalu bagaimana cara mengembangkan bakat? Do it with passion!
Passion adalah gairah, semangat yang menggebu-gebu. Passion didapatkan dengan menjalankan apa yang kita kerjakan dengan hati, menganggapnya sebagai panggilan hati. Pekerjaan atau jabatan bukanlah passion. Kedua hal tersebut hanyalah alat. Yang kita cari adalah kenikmatan dalam proses menjalani pekerjaan kita. Kenikmatan itulah yang disebut passion
Jika passion dianggap sama seperti bakat, sesungguhnya kedua hal ini berbeda namun berkaitan. Passion adalah gairah, sesuatu yang membuat kita enjoy dalam melakukan sesuatu. Ibarat produksi, bakat adalah bahan baku, passion merupakan proses pengolahan, kemudian prestasi atau keberhasilan adalah bahan jadi. Jika bahan baku bagus karena ia merupakan bakat, dengan proses yang biasa saja maka ia akan menjadi barang jadi yang bagus. Bila bahan baku biasa saja namun diproses dengan baik maka hasilnya dapat mengalahkan hasil dari bahan baku yang diproses secara biasa. Apalagi jika bahan baku berkualitas baik dan diproses dengan sangat baik pula maka hasilnya akan melebihi kedua barang jadi lainnya. Bakat memang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Kita tidak bisa memilih keunikan tersebut sendiri. Yang dapat dilakukan adalah memberikan proses terbaik atas kemampuan, bakat, potensi yang kita miliki, bagaimanapun kualitasnya. Proses terbaik tersebut diperoleh dari perasaan enjoy dan menikmati proses atas apa yang dilakukan. Suatu hal yang kita enjoy dalam melakukannya memang belum tentu merupakan bakat, tetapi jika enjoy dan juga merasa senang dalam menjalaninya, hasil yang didapat akan baik dan bahkan bisa mengalahkan bakat. Hal ini dapat terjadi pula sebaiknya. Maka, kita sendiri yang menentukan akan memilih hasil yang bagus secara biasa, lebih dari biasa, atau yang luar biasa?
“It is NOT what you are good at. It is about what you enjoy the most!”
Lalu bagaimana cara meningkatkan kualitas proses tersebut? Siapkan hati dan pikiran yang ikhlas dan semangat. Modal ini penting agar passion dapat menggiring kita ke produktivitas dan kreativitas yang lebih lalu membawa kita ke kebermanfaatan yang lebih pula. Ketika kita harus melakukan suatu pekerjaan yang bukan bakat kita, terlebih harus menghabiskan waktu lebih lama dalam mempelajarinya, so just do it with passion! Passion akan membantu keluar dari zona “tersiksa”. Jika tetap merasa “tersiksa”, jangan menyerah untuk mencari passion yang tepat karena ia terkadang tak datang begitu saja. Untuk hal yang (terlanjur) dijalani, berusaha survive adalah kewajiban. Mencari passion dilakukan dengan tetap menjadi diri sendiri dan mencintai serta menikmati apa yang memang kita senang melakukannya. Percayalah, setiap orang terlahir unik dan keunikan itu pula yang menjadi passion kita. Jangan biarkan passion terhalang hanya karena rasa takut untuk gagal atau mendengar pendapat orang lain. Live it with passion!


Jumat, 05 Juni 2015

Urgensi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Sejarah FKM UI

Berbicara tentang kesehatan, yang terbayang adalah dokter dan pasien yang terkena penyakit. Padahal kesehatan tidak sesimpel itu. Penyakit bisa dicegah atau setidaknya dikurangi perluasan wabahnya dengan upaya preventif dan promotif. Apalagi tidak semua penyakit benar-benar murni disebabkan oleh mikroorganisme. Ada banyak factor yang menyebabkan sakit itu datang, salah satunya gaya hidup dan perilaku. Kita tidak bisa terus-menerus menangani penyakit saja, tetapi kita juga harus tau bagaimana mengontrol agar penyakit tersebut tidak meluas.
Kesehatan tidak hanya berbicara tentang rumah sakit dan puskesmas beserta isinya. Semua orang adalah anggota masyarakat, dan semua orang butuh untuk sehat. Masyarakat hidup di berbagai lingkungan baik untuk bekerja maupun hanya berdiam. Di rumah, kita perlu tahu apa saja yang seharusnya dilakukan ibu hamil, tahu mengapa ibu hamil rentan dengan kucing, mengerti mengapa bayi harus asi eksklusif 6 bulan, dsb. Di industri, dalam pelaksanaannya dibutuhkan prosedur kesehatan dan keselamatan yang benar untuk mencegah kecelakaan kerja. Di lingkup pemerintahan dan sistem kesehatan, dibutuhkan suatu kebijakan dan sistem kesehatan yang baik untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Bahkan, di dalam kapal sekalipun dibutuhkan tenaga kesehatan untuk mengecek apakah kapal tersebut menimbulkan bahaya kesehatan atau tidak bagi penumpang. Itulah mengapa ada Kesehatan Masyarakat. Sebab Kesehatan Masyarakat memegang sistemnya, dan menjadi otak berjalannya tenaga-tenaga kesehatan yang lain seperti dokter, perawat, dokter gigi, farmasis, dan bidan agar bekerja sesuai koridor yang diatur Kesehatan Masyarakat. Cakupan yang dimiliki Kesehatan Masyarakat sangat luas. Bahkan serumit ekonomi pun ada pembahasannya.
Ketika banyak orang menganggap dokter adalah segalanya bagi dunia kesehatan, masyarakat luar negeri tidak terlalu berpikir demikian. Mereka menganggap bahwa public health (kesehatan masyarakat) dan clinical medicine (dokter) serta ekologi (lingkungan) adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ini adalah saat untuk mengintegrasikan keduanya. Selama abad 20, public health telah memperpanjang harapan hidup manusia dan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas dari banyak penyakit di seluruh dunia. Dokter bergerak untuk individu dan keluarga. Kesehatan masyarakat bergerak untuk public (komunitas dan populas), dengan cakupan bidang sosial, lingkungan dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. Public health memilih apa yang terbaik untuk individu dan apa yang terbaik untuk populasi dan komunitas.
Kekhawatiran para dokter yang berada di FK UI atas ketidakhadirannya sifat preventif dan promotif dalam upaya kesehatan menjadi dasar pendirian FKM UI sebagai fakultas baru. Hal ini  utamanya digagas oleh dr. Mochtar. Di masa awal FKM UI, struktur dekanat dan jajaran pengajar merupakan dokter dari FK UI karena pada awalnya ilmu kesehatan masyarakat berada di bawah FK UI. Hingga kini pun masih banyak dokter yang berkecimpung di FKM UI. Yang belajar di FKM UI pun ada yang dari FK maupun FKG. Alasan mereka satu: ilmu yang ada di kedokteran belum cukup untuk menangani masalah kesehatan keseluruhan, sebab kedokteran hanya berfokus pada individu yang tentunya memiliki permasalahan sendiri satu dengan lainnya.  Sehingga kini FK dan FKM merupakan mitra kerjasama sampai nanti benar-benar ada di lapangan kerja. FKM UI juga memiliki banyak kerjasama dengan public health di seluruh dunia. Contohnya kerjasama dengan Bloomberg School of Public Health di Amerika, menjadi inisiator Indonesia One Health University Network (INDOHUN), WHO, USAID, dan sebagainya. FKM UI yang merupakan FKM tertua dan terbaik se-Indonesia memiliki banyak pusat penelitian kesehatan seperti Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan, Pusat Riset Kesehatan untuk Krisis dan Bencana, dll.
Kesehatan Masyarakat memang tidak bisa mengobati pasien, namun ia bisa menyuruh dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk menangani pasien bahkan masalah kesehatan di individu dan masyarakat.

Sabtu, 27 Desember 2014

Keluarga

Keluarga

Ada Ibu, Ayah, Kakak, dan atau Adik.

3 sebutan di atas untuk pengisi keluarga inti, berapapun anggotanya.

Apa fungsi mereka?

Tempat menanam dan menumbuhkan kebaikan. Membentuk pondasi. Sehingga kelak jika harus pergi, ada sebuah kewajiban untuk kembali. Kembali untuk merapihkan dan merekonstruksi pondasi yang mungkin tergerus arus dunia. Yang mungkin tak lagi sekuat kala sebelum ia pergi. Kala pondasi kebaikan masih mudah dirawat dan ditata tanpa gangguan.

Benar. Kita tidak bisa hidup tanpa landasan, tanpa tempat.

Allah memang menyuruh kita untuk bersandar kepada-Nya. Dan keluarga adalah salah satu medianya.

Jika engkau lelah, pulanglah.

Ada senyum yang tak akan terhenti,
ada kehangatan yang tidak pernah terkikis,
dan pasti ada ketenangan yang tidak tertepis..

Bukan dari apa, melainkan siapa.

Iya, keluarga.

Merasa tidak cocok?

Ah itu hanya masalah waktu. Ada saat-saat tertentu di mana sebuah "tempat" tidak memberi seperti kapasitas porsi biasa. Dia juga suatu hal yang sama-sama perlu pembenahan. Caranya ya dengan ketidakcocokan tadi,yang membuat solusi menjadi tujuan berharga yang harus dicapai bersama, dengan kita turut serta di dalamnya.

Ini yang membentuk keterikatan. Sebuah tempat bernama keluarga, memang tidak akan sempurna. Itulah mengapa ia dibentuk dari berbagai karakter, disatukan dengan darah. Agar kebersamaannya saling ada, berkait, bergantung, dan membentuk kesempurnaan. Meski selamanya tak akan ada yang bisa sesempurna Pencipta.

Yah setidaknya. Menjadi sebuah bagian dari keluarga itu penting. Jadi, seberapa jauh dan berapa pun lama jiwa memisah, pasti akan rindu untuk kembali. Ke tempat asal, di mana hidup ditakdirkan untuk memulai. Pergi untuk kembali dan memulai kepergian yang baru lagi.

Keluarga adalah tempat pulang terbaik. Asal tidak ke keluarga untuk pulang (means: menjadi tempat singgah), namun pulang untuk (re: demi) keluarga.


Yang Didengar, Yang Dihafal

Cerita malam ini
Aku sedang memulai langkah awal terwujudnya mimpi bersama yg terucap kala TEBBAL part 1. Samar terdengar murottal. Lebih samar lagi terdengar orang mengucap sama dengan yang terputar. Iseng, aku bertanya ke sumber suara,
Hafalannya berapa?
Sang sumber suara menjawab,
"Ah jangan ditanya. Ga banyak. Saya bisa ngikuti karena sering denger. Kalo spelling dari awal sampai akhir tidak bisa."
Masya Allah
Masih ada pemuda yg menjadikan murottal sebagai pengiring kerja favorit. Sedangkan aku?
Masya Allah
Hanya dengan sering mendengar, Al-Qur’an mudah menancap di ingatan dan hati orang. Bila ditambah serius menghafal dan mengulang, pasti akan cemerlang.
Namun jika yg sering didengar bukan murottal lalu dihafal dan diulang? Apa jadinya?
Astaghfirullah

Engkaulah Keluarga, di Samping yang Sesunnguhnya

Jika aku boleh berkata,
Maka sejujurnya aku bukan orang yg dekat dgn keluarga.
Tidak jarang bingung tentang apa fungsi mereka.
Sering iri dgn mereka yg bisa menyatu dgn darahnya.
Kalau pun ada kesempatan,
quality time pun susah didapat feelnya.
Entah sebab apa.
Seiring berkurangnya usia,
Tergeraklah untuk membangun seperti sedia.
Mungkin terlambat.
Ah setidaknya aku bisa bercerita.
Kemudian mendengar petuahnya.
Dan kini,
Aku diherankan dgn adanya sebuah rasa.
Sebuah rindu.
Seonggok kangen yg menonjok dada dan seakan berkata,
"Woy kamu selama ini ngapain aja?"
Kemudian,
Hp dipegang, ingin bertanya,
"Apa kabar? Di rumah ada kejadian apa?"
Tapi,
Sebuah kecanggungan,
Ditambah sedikit keegoisan,
Mungkin tersempil juga kegengsian,
Muncul karena terbiasa.
Ah aku kenapa?
Mau sampai kapan?
Demikian sebuah kosong di luar isi yg aku tumpahkan.
Terima kasih telah memberiku jawaban tentang apa yg disebut keluarga,
Menemukan makna “keluarga” sesungguhnya,
Bahkan mengetahui arti kalian sebagai keluarga :)
Sejatinya,
Keluarga adalah tempat pulang.
Tempat kau mendapat makna kehidupan.

Bersyukurlah engkau tidak terlambat mengetahuinya,
Doakan aku bisa membangun kehangatan keluarga yg sama :)
Di sisa gerimis depok, 27.12.14
Pasca TEBBAL part 1

Gadis Penunggu Hujan

mengapa hujan ditunggu?
karena hujan adalah rahmat dari-Nya. tanda bahwa Dia sedang berbaik hati mengabulkan segala permintaan hamba-Nya. simbol disebarkannya rizqi bagi setiap yang bernyawa. ketika rahmat disebar, timbullah kebahagiaan.

seringkah kita perhatikan apa yang hati kita rasakan sepanjang turunnya hujan?
jika kebahagiaan itu belum terasa,
mungkin karena kita sedang mengharapkan sesuatu yang dengan hujan hal itu sulit kita raih, misalnya bepergian atau menghadiri suatu acara.
namun, di samping segala pikiran yang menerpa,
di suatu lapis hati kita, tersemayam rasa damai. damai di sini berarti tenang, seakan tidak mengkhawatirkan apa-apa.
sering kita merancukan pikiran dengan hati.
memang hati mempengaruhi pikiran. tapi pikiran bisa membuat apa yang dirasakan hati menjadi samar, tak nampak. 
begitupun kala hujan.
ketika kita sebal karena gagalnya melakukan berbagai hal dan timbulnya bencana akibat curah tak tertahankannya, itu murni karena pikiran kita.
tiap bunyi jatuhnya tetes bahkan guyuran air hujan tetap memberikan efek ketenangan dan menjernihkan pikiran. asal kita mau sejenak membiarkan pikiran dan hati sama-sama diam meresapi sensasi yang dibawa hujan.
jadi, aku menunggu hujan.
menunggu agar bisa seperti hujan yang menebar manfaat. meski dalam porsi parah dan wadah tidak terarah aku berpotensi membawa bahaya, setidaknya pengolahan yang tepat bisa mengontrol tidak terjadinya bencana. kurang lebih kehadiranku dirindukan ketika kehidupan mengering, ditunggu saat aku menjadi perantara pertolongan dan rizqi dari Allah, dan dinantikan kehadirannya untuk menenangkan.
menunggu bukan berarti diam. namun bergerak mewujudkan itu semua tanpa berkomentar dan keluhan macam-macam.
hujan memang tidak sesempurna yang diinginkan. datang tidak selalu tepat di saat dibutuhkan. tapi setidaknya, aku bisa seperti hujan yang keberadaannya melestarikan kehidupan :)

Ketika Kamera Menangkap Sudut


Lautan Ungu Demi KeJAYAan Ungu


A Little Palestina's Blood Smile 




Ada Warna Antara Hitam dan Putih


Downstairs


Who's Siluet?


Sisi Lain Danau UI


Hijau Di Tengah Panas Jakarta


Mungkin bagi orang ini jepretan biasa. Tidak berseni, tidak bermakna.
Tapi bagiku, lihatlah dari sudut pandang berbeda. 

Mayoritas gambar di atas diambil secara tidak sengaja. Menyalakan kamera, lalu ambil. Setelah dilihat, -menurutku- alhamdulillah bagus. 

Sama seperti kehidupan.

Kadang makna dari setiap kejadian, atau mungkin hal sesimpel benda-benda di sekitar kita, muncul tiba-tiba tanpa harus kita berpikir dia bermakna atau tidak. Hikmah pun demikian. Terkadang tanpa mencari dan berpikir mendalam ia hadir. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Maukah kita menerimanya dan mengamalkannya? Semua itu didasarkan pada hati. Kembali lagi ke hati. Maukah hati kita merendah menerima segala pemberian-Nya melalui hal-hal yang mungkin menurut sebagian orang remeh? Karena hasil dari jepretan sudut pandang hati dan pikiran bisa menghasilkan karya amal yang indah, asal mau merenung dan meresapi karunia-Nya :)

Jumat, 26 Desember 2014

10 Tahun Tsunami Aceh, di Mata Saksi Hidupnya Sendiri

*Kumpulan tweet dari Kessa Ikhwanda Thamrin, mahasiswa FKM UI 2014, yang menjadi saksi hidup Tsunami Aceh 10 tahun lalu, dikumpulkan dari akun @KessaIkh_Ofc*
Hari ini adalah peringatan ‪#‎10thnTsunami‬ yang melanda Aceh, tepatnya tanggal 26 Desember 2004 lalu. Sebuah tragedi yang menjadi sejarah
Agak sulit utk mengingat kembali 10 tahun lalu, tapi ketika itu dipertanyakan rasanya sejarah harus kembali diceritakan #10thnTsunami
Bismillah, 26 Desember 2004 #10thnTsunami | 10 Tahun yang lalu..... saya masih kelas 3 SD | Waktu itu fajar begitu indah nan menawan
Masih teringat jelas ketika wajah menggoreskan kebahagiaan, lewat senyum dan tawa berkumpul bersama keluarga tercinta #10thnTsunami
Pukul 7 pagi, seorang pria datang ke rumah, sudah menjadi tanggungjawabnya utk membawa surat dari pelabuhan dan sebaliknya #10thnTsunami
Kehadirannya selalu memberikan warna dan cerita yang berbeda, lewat berbagai barang yang selalu dihadiahkannya #10thnTsunami
Kata terakhir yg terucap dari lisannya “Saya akan ke pelabuhan dan kembali lagi” | Tp hingga kini tak ada lgi kabar.... #10thnTsunami
Tak tau dgn apa harus membalas jasa, semoga doa dpt menempatkan beliau selalu disinggasana terbaik dlm lindungan-Nya #10thnTsunami
7.30 | Niat awal ingin ke pantai, menerpa laut di bawah mentari. Tapi tak kunjung pergi karena suatu hal #10thnTsunami
Ada satu saat dimana semua tiba-tiba hening, tanpa ada satupun suara yang berani unjuk diri.... hening dlm keheningan #10thnTsunami
Sesaat kemudian bumi bergoncang kuat, hingga tak tau harus kemana diri menepi | Pohon dan bangunan roboh seketika #10thnTsunami
Masih teringat wajah yg meminta tolong dibalik reruntuhan, begitu banyak, sampai tidak tau harus bagaimana #10thnTsunami
Bumi bergetar, tanah tak lagi diam, benda-benda sekeliling seolah berontak, benar-benar kepanikan yg tak tau arah #10thnTsunami
Sesaat semuanya berhenti, kami coba menenangkan diri, coba utk saling peduli... tapi ada hal lain yg blm kami ketahui #10thnTsunami
Terdengar suara ledakan yg amat keras seolah gemuruh pertanda perang dimulai, disusul dgn teriakan seorang wanita... #10thnTsunami
Ie Laot ka LUAP!!....., teriaknya dgn kencang sambil berlari pontang-panting diikuti dengan jerit-tangis orang lain #10thnTsunami
KIAMAT!!! Itu kata yg terucap, beriring dengan doa dan takbir | Begitu banyak air mata yg bercucuran saat itu..... #10thnTsunami
Tangisan seorang ibu memeluk anaknya, seorang bapak mencium kening putranya, bahkn seorang pria yg berlari tanpa arah #10thnTsunami
Dari atas jembatan saya melihat arus sungai dengan derasnya, berubah arah, behkan berubah warna menjadi hitam pekat #10thnTsunami
Banyak sekali material bangunan yg tergerus, bangkai hewan yg seolah hangus, bahkan korban manusia yg terbawa arus #10thnTsunami
Sampai sekarang masih terdengung di telinga ketika suara minta tolong dari orang-orang yg hanyut dan tenggelam… #10thnTsunami
Niat hati ingin menolong, tp apa daya diri tak mampu, ketika raga ini masih takut utk berbuat dan diam menjd pilihan #10thnTsunami
Kami sekeluarga lari mengungsi, sepanjag itu banyak terjd kepanikan dan minta tlg, tapi saling menguatkan dgn doa #10thnTsunami
Di pengungsian hanya bisa berdoa, apa yg tadinya terlihat perlahan menjadi trauma, apalagi kabar kehilangan keluarga #10thnTsunami
Kehilangan sanak saudara, keluarga bahkan orang yang sangat berarti menjadi pukulan tersendiri bagi diri waktu itu #10thnTsunami
Kegelapan menyelimuti malam, tanpa satupun cahaya yang menerangi selama 3 hari lamanya #10thnTsunami
Selama itu saya hanya diam dan Trauma membuat saya sulit tidur krn terus membayang serta takut melihat arus air #10thnTsunami
Sungguh Allah SWT yang Maha Bijaksana, yang punya rencana tersendiri, dan setiap dari itu pasti ada hikmah #10thnTsunami
Semoga para syuhada korban Tsunami di tempatkan disinggasana terbaik yang selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin #10thnTsunami
Sekian kisah saya…. semoga bermanfaat #10thnTsunamipic.twitter.com/3oXbGjSrMl
#10thnTsunami 26 Desember 2004 – 26 Desember 2014 | Aceh terus bangkit untuk menggapai keJAYAan @iloveaceh #WeForJAYA
Saksi hidup peristiwa akbar itu sobat kita sendiri. MaasyaAllah (Chyntia A M, FKM UI 2014)